Sabtu, Agustus 14, 2010

Pindah Rumah, Lagi...

Hihihihi...karena satu dan lain hal, situs saya berubah lagi...*err...bakar menyan mudah-mudahan ga pindah rumah lagi, capekh euy*

And now I proudly present to you all, my new home, my new soul and with warmest heart

IntrovertinaDotCom

yang bisa diklik dengan tautan di bawah ini


Saya tunggu di sana yaaa...love you all



Minggu, Juni 28, 2009

Pindahan...

Proudly Present To You,
My New Site,
http://www.introverto.com


yang bisa diakses dengan link di bawah ini:


Tulisan Seorang Introvert

Semua isi tulisan saya di sini, sudah dipindahkan ke situs tersebut, dan untuk tulisan-tulisan saya selanjutnya, dapat dibaca di situs baru saya.

Saya tunggu kunjungan dan komentar kalian di sana ya...

----

"Dalam beberapa hari lagi, situs saya yang satu ini, akan saya non-aktifkan, terima kasih."

Senin, Juni 22, 2009

Menikmati Lagu Sumbang...

Sekitar pukul 09.00...

"Yah, seperti biasa, internet masih mampus. Ya sudah lah, ga boleh ilang lagi moodnya."

09.15...

"Nyetel lagu ah."

Dan aktiflah Windows Media Player di laptop ("Enakan kasih nama apa ya? Hehehehe, terinspirasi sama si MbakDos di seberang sana."), dan lagu yang saya dengarkan berdasarkan abjad judul lagu yang dimulai dari abjad A.

Tak lama kemudian, mulailah telinga ini menangkap lagu-lagu "sumbang".

Di mulai dengan...

And I Love Her, yang dulu terkenal karena Beatles. Tak perlu repot-repot mencari tahu lagunya seperti apa. Hanya tinggal menggerakkan kursor komputer/laptop kamu sedikit ke bawah, kamu sudah tahu lagu yang saya maksud.

Tak perlu repot-repot juga bagi seseorang ("Saya bukan ya?") untuk dapat memanggil kembali "hantu" di kepala, alias memori tentang sesuatu. Dan sampailah pada kejadian di hari pertama tahun ini, karena ada "Beatles" The 2nd yang lagi pentas.

Namun seketika? Gone! ("Yay!")

Kembali ke pekerjaan yang tiba-tiba sedikit lebih banyak dan dapat membahagiakan, karena sudah barang tentu itu akan menyibukkan.

Windows Media Player pun masih sibuk bernyanyi dan terus bernyanyi.

Kira-kira sekitar pukul 09.45, suara "sumbang" kembali terdengar. Kali ini...

And Aubrey was her name, a not so very ordinary girl or name, but who's to blame for a love that wouldn't bloom...and bla, bla, bla...

What the...Ya, ya, kembali ke awal Desember, lebih tepatnya 4 Desember, saat dua orang di ruang itu, memegang microphone, sibuk memilih-milih daftar lagu apa yang akan digilir untuk dinyanyikan.

Dan saat seseorang memilih lagu yang mempunyai lirik di atas...

Bukan yang memilih lagu: "Ya ampun Aubrey"...(sambil tertawa kecil)

Orang yang memilih lagu: "Tau lagunya khan?"

Bukan yang memilih lagu: "Ya, tau lah!"

Orang yang memilih lagu: "Suka?"

Bukan yang memilih lagu: "Aku suka banget sama Bread. Jaman-jamannya aku ngamen, lagunya Bread itu lagu andalan."

Sekali lagi, "tongkat ajaib" dapat bekerja dengan baik, yang membuat semuanya hilang dari pikiran seketika.

Kembali serius dengan pekerjaan, yang sudah mendapatkan dukungan koneksi internet dengan baik. Melirik ke arah penunjuk waktu di sudut kanan bawah laptop tercinta, telah menunjukkan pukul 10.11 ("Hmmm, do I have a damn good photographic memory?").

Dan "hantu" lain terpaksa terpanggil kembali untuk keluar, karena lagu yang satu ini...

When you weary, feeling small, when tears are in your eyes, I will dry them all...

Menunggu di dalam mobil saat ia membeli sebungkus, dua bungkus rokok murahan, serta beberapa botol minuman ringan di mini market di depan kompleks rumah, dan sekembalinya ia masuk ke dalam mobil, suaranya menggantikan suara si penyanyi asli,...

Sail on silvergirl, sail on by. Your time has come to shine. All your dreams are on their way.

"Ah cupu. Pergi luuu!"

Ketak-ketik lagi, sibuk lagi. Sambil diiringi lagu-lagu indah dari Windows Media Player, yang ternyata kembali menyanyikan lagu "sumbang"...

Sahabatku, usai tawa ini, izinkan aku bercerita...

"Hantu" yang nongol baru sedikit nih, baru saat dia menanyakan "Just tell me, lagu ini tentang apa?", saat salah seorang di sana sedang duduk, dengan kepala dan arah mata tertuju ke seseorang yang letaknya sedikit di bawahnya; dan salah seorang lagi berlutut, dengan tangan kirinya diletakkan di atas sofa, tepat di samping kaki kanan seorang lainnya, sehingga sikunya bersisian dengan dengkul orang yang duduk, dan tangan kanannya ia letakkan di atas sofa tepat di samping kaki kiri seorang lainnya itu, juga menjadikan siku dan dengkul kedua orang itu bersisian, dan mengakibatkan kedua tangan orang yang berlutut tadi mengapit ke dua kaki seseorang yang sedang duduk itu.

"Mari lewwaaatttiiiii..."

Mulai merasa "terancam", akhirnya metode terakhir tersebut kembali terulang, kembali melewati suara-suara "sumbang" yang bisa membuat siang hari menjadi melankolia.

Namun jiwa masokis yang tak pernah bisa/ingin terbunuh dengan sukses ini, kembali menikmati salah satu suara "sumbang" yang ada di deretan daftar lagu itu, dengan sukarela.

I could build a mansion, that is higher than the trees...

Dan malahan menikmati "hantu" yang muncul ("Hyaaahhhh...!!!")

Namun semuanya itu tak menjadikan mood ini berubah. Tetap sibuk, tetap ceria, tetap menyenangkan.

Sampai saatnya tiba di rumah, dan memeriksa isi si Bébé. Terteralah di sana sebuah pesan singkat dari si Krempeng.

"Calling him because I miss him so. Now I miss him even more."

Dan balasan pesan itu terkirim, yang intinya untuk tidak terus-menerus meng-IYA-kan suara hati untuk mengiriminya pesan singkat atau bahkan meneleponnya.

Tttaaaaapppiiii, hari ini gagal, akhirnya satu pesan singkat terkirim sudah, setelah sekian lama tak terjadi. Hanya satu kata sangat singkat yang diketikkan...

"Tega!"

----

"Krrreeemmmpppppeeeennngg, byengsyek lu ya! SMS lu stimulus buruk deeee!"

----

Dari sekian banyak lagu "sumbang" yang diputar oleh Windows Media Player hari ini, inilah juaranya (meskipun dengan video klip yang monoton)...



Dan dengan lirik lengkap...

When you're weary, feeling small,
When tears are in your eyes, I will dry them all
I'm on your side. When times get rough
And friends just can't be found,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

When you're down and out,
When you're on the street,
When evening falls so hard
I will comfort you.
I'll take your part.
When darkness comes
And pains is all around,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

Sail on silvergirl,
Sail on by.
Your time has come to shine.
All your dreams are on their way.
See how they shine. If you need a friend
I'm sailing right behind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.

Yang telah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan yang dikira oleh orang yang membangunnya sudah cukup kuat dan tak dapat runtuh. Ternyata asumsinya salah total. Setidaknya untuk hari ini.

----

I hate my nites, and my early mornings, times I remember you at the most.

Minggu, Juni 21, 2009

To All Fathers: You're The Best!!!!...

Walaupun tradisi ini tak dirayakan di Indonesia,...

Namun saya pribadi ingin mengungkapkan rasa syukur saya, karena diberi kesempatan untuk merasakan kasih, cinta dan seluruh perhatian, dari seorang ayah yang luar biasa...

Dan juga sebagai ungkapan apresiasi bagi seluruh ayah di luar sana, yang telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi ayah yang baik untuk anak-anak mereka...

To all fathers in this world...Happy Father's Day...


Gambar diambil dari sini

----

Jadi teringat perbincangan saya dengan papa, beberapa bulan lalu, saat mengetahui ada seorang anak pejabat yang mendapat banyak suara dan terpilih menjadi anggota legislatif...

Saya: "Padahal anaknya kayak ngga ada otak gitu pa, cuma ndompleng nama bapaknya!"

Papa: "Ya, namanya bapak bisa kayak gitu, Sa. Mau kata anaknya salah, nalurinya bisa mbuat dia bela anaknya dulu, baru mikir."

Saya: ........ (tak tahu harus berkata apa)

----

"Ayo dounks di Indonesia bikin tradisi hari ayah. Masakh cuma hari ibu!!!???"

Sabtu, Juni 20, 2009

Awal dan Akhir...

Awalnya, aku hanya tahu matahari terbit di timur dan terbenam di barat...
Sekarang, yang aku tahu ia terbit di barat dan terbenam di timur...

Awalnya, aku hanya melihat jarum jam berjalan ke arah kanan...
Sekarang ia pun bosan, mengganti arah jalannya ke sebelah kiri...

Awalnya, aku hanya melihat matahari di siang hari dan bulan di malam hari...
Sekarang aku melihat bintang bersinar di siang hari bersama matahari...

Awalnya, aku belajar bagaimana mencintai dan tanggalkan semua topengku...
Sekarang terpaksaku belajar membenci dan kenakan lagi semua topengku...

Dan itu semua karena kamu...
Yang membuatku tak inginkan awal dan akhir...

Dari segalanya...

Jumat, Juni 19, 2009

Pagi Biru Melankolia Sore...

Saat saya membuka pintu ruang kerja saya,...

"It's not going to be a good day for me!"

Membuka laptop, menyalakannya dan menemukan satu hal yang semakin mendukung pikiran saya tadi...

"Hyaaahhh...internet down terusssss! Otomatis belum bisa memeriksa e-mail dah!"

Rutinitas itulah yang pertama kali biasanya saya lakukan begitu memasuki ruang kerja saya. Memeriksa seluruh akun surat elektronik yang saya miliki, baik akun surat elektronik kantor maupun akun surat elektronik pribadi, walaupun semua surat elektronik sudah masuk ke si Bébé, tapi tetap tidak senyaman membaca dengan layar laptop yang lebih besar.

Saya tambah kehilangan mood baik hari ini. Dan mulailah saya menyelesaikan pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus menggunakan media internet.

Berkali-kali melihat ke arah jam, adalah sebuah indikator yang sangat buruk bagi seorang Ocha. Meskipun indikator buruk ini mempunyai dua kemungkinan, yaitu Ocha yang merasa bosan, atau Ocha yang lagi dikejar waktu seperti saat-saat ia masih kuliah dulu.

Dan saat itu, kesekian-kalinya ia melirik ke arah kanan bawah di sudut layar laptopnya.

"Anjrit masih jam 10.00."

Keluar-lah saya dari ruangan...

"Minta tolong bikinin kopi dounk."

Ternyata belum membantu. Pekerjaan yang sedang saya kerjakan terasa sangat lamban untuk saya bisa selesaikan. Dan terasa semakin lamban dengan hadirnya salah satu sapaan teman saya di YM yang saat itu sedang saya aktifkan dengan menggunakan si Bébé. Beginilah kira-kira sapaannya...

"Baru jam 11, sore masih lama ya."

Dan saya pun membalas...

"Sama aja lu sama gue..."

Saya pun kembali ke pekerjaan saya, sambil berharap kopi yang sudah setengah gelas saya habiskan, akan memberi sedikit pencerahan bagi saya, untuk hari ini.

Saat di tengah saya mengetik, tiba-tiba tanda koneksi internet sudah berfungsi dengan baik, sudah muncul. Dan mulailah saya membuka akun surat elektronik yang belum saya periksa hari ini, juga menyalakan YM.

Kembali saya melirik ke arah jam, yang sudah menunjukkan pukul 11.50. Dan hati masih tak karuan karena moody saya sedang kumat.

Saya semakin memantapkan niat saya, untuk makan siang di luar kantor hari ini, dengan teman ataupun sendirian, saya tak peduli lagi. Jenuh ini harus dibunuh segera, tak bisa dibiarkan.

Melihat jejeran teman-teman yang aktif di YM, saya melihat salah satu teman yang menyapa saya dengan panggilan sayangnya untuk saya, yaitu sarap, beberapa hari yang lalu. Dan berikutnya yang terjadi adalah...

"Ke P.S yuk."

Saya pikir ia akan berpikir banyak hal dulu sebelum menjawab. Ternyata...

"Yuk. Kapan?"

"Sekarang."

"Elo ampe P.S jam berapa? Gue paling 15 menitan."

"10 menit gue juga nyampe. Gue brangkat sekarang."

Begitu saya sampai Plaza Senayan,...

"Zara, Cuy."

"Okay."

Tak lama saya mengitari butik kesayangan saya itu, tiba-tiba teman saya sudah datang.

"Mau makan atau ngga?"

"Makan boleh, ngga makan juga boleh. Tapi makan lah."

"Okay. Di mana?"

"Nyushi?"

"Sushi Tei yah."

Akhirnya kami berdua makan dengan anteng di restoran favorit kami berdua, walaupun ini kali pertamanya kami makan berdua di sana.

Mulailah semua pembicaraan seputar kehidupan kantor, dan urusan percintaan yang tak pernah habis kami bahas, baik secara obrolan atau sahut-sahutan di komentar Note Facebook, yang sebagian besar isinya merupakan pindahan dari Introverto ini ("Hihihihihi, that's why Facebook gue masih tertutup untuk banyak orang neh. Aib gue bisa kebongkar gara-gara tulisan komentar makhluk-makhluk tak bertanggung jawab di Note gue, termasuk komentar pengakuan gue sendiri seh").

Ketawa sana-ketawa sini, mentertawakan diri sendiri, mentertawakan mereka yang kami anggap lucu dan pantas untuk ditertawakan tidak di depan orangnya.

Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, membuat saya sedih. Sedih karena harus kembali ke kehidupan nyata. Mencari sesuap nasi, dan bekal untuk beli berlian ("Heh? Berlian? Lebbbaayyy?").

Ternyata sushi tak pernah mengecewakan saya. Termasuk untuk menaikkan mood saya yang dari tadi hilang tak tahu kemana.

Surat elektronik yang perlu dikirim, sudah berhasil terkirim dengan baik semua. Dan pekerjaan saya yang tadi saya coba kerjakan setengah mati, akhirnya berhasil saya kebut, walaupun belum tenggat waktu ("Tumben 'Cha, ga jadi deadliner?").

Taaapiiii sekitar pukul 17.00, dan giliran Windows Media Player yang saya aktifkan memainkan sebuah lagu, lagu yang dikirimkannya melalui YM, saat kami berdua masih sering mengobrol di sana hingga subuh menjelang. Dan aku masih ingat betul apa yang ia tuliskan di jendela saat itu.

"Dengerin deh, kata-katanya bagus banget!"

Dalam hati saya...

"Dan lagunya kamu banget. Gitaran!"



Memang dasar masokis, lagu itu malah beberapa kali saya putar, hingga setelah putaran kesekian-kalinya saya katakan pada diri saya sendiri...

"Udah, udah, cukup hobi masokis loe 'Cha, hobi nyiksa diri sendiri. Pulang-pulang, dah waktunya pulang ke gereja!"

Dan kembali mata ini melirik ke arah jam...

"Pas, udah pukul 17.55, mari menenangkan diri, pulang."

----

"Damn I hate to admit it, I do miss you, as always!!!"

Kamis, Juni 18, 2009

Urgently Needed...

Berpredikat sebagai seorang Sarjana Psikologi, atau mungkin psychologist wanna be ternyata tidak selamanya menyenangkan ("Hyyaaiyalah! And damn this title! hehehehe"). Dan terkadang ingin sekali saya melepaskan predikat itu dari diri saya, namun ya itu hanya terkadang, tidak selalu.

Seseorang dengan latar belakang pendidikan psikologi, memang dilatih, dididik dan mungkin juga dibentuk sedemikian rupa agar mereka lebih mampu memahami orang lain. Memahami manusia yang katanya merupakan makhluk termulia di muka bumi ini, makhluk yang unik dan tak ada yang sama persis, dari isi pikiran, isi perasaan, isi hati dan pastinya secara fisiknya.

Tidak tahu apakah memang benar, manusia ini (termasuk saya), adalah makhluk paling mulia di muka bumi, jika dilihat dari masih adanya manusia yang mampu menghabisi nyawa manusia lainnya.

Dalam kasus seperti pembunuhan, memang seringkali psikolog diperlukan di sana, agar dapat memahami latar belakang dari tingkah laku membunuh yang dimunculkan oleh pelaku. Yang menjadi pertanyaan saya adalah jika dalam kasus besar seperti kasus pembunuhan itu saja seorang psikolog diharap untuk dapat memahami si pelaku, apalagi untuk kasus-kasus yang lebih kecil?

Saya memang belum mempunyai gelar sebagai psikolog di tangan, tapi setidaknya orang lain telah melihat saya sebagai seseorang yang cukup terlatih untuk dapat lebih memahami orang lain, termasuk memahami kalian. Dan hal itu tidak hanya sebagai pandangan orang lain terhadap saya, tapi lebih sering sebagai keharusan bagi saya. Keharusan untuk memahami orang lain, memahami kalian.

Keharusan untuk memahami sekecil apapun hal yang kalian lakukan. Keharusan untuk dapat menalar alasan dibalik segala ucapan kalian, yang sebenarnya terkadang juga menyakiti saya. Tak sadarkah kalian, bahwa seringkali pun saya telan mentah-mentah sakit hati saya akibat tingkah kalian?

Namun apa yang kalian lakukan saat saya kehilangan kontrol seujung jari saja atas tingkah laku saya? Kalian bisa memperlakukan saya seenak kalian, meninggalkan sejuta kebingungan dan rasa penasaran yang disertai usaha keras untuk menerka, memilah, menyambung hingga menjadikan satu hal yang cukup masuk akal, yang pada akhirnya saya juga-lah yang harus memahami kalian?

Saya bukan mesin yang bisa memindai kalian hanya dengan satu kali lihat, dua kali sentuh, atau mungkin tak cukup dengan sejuta kata yang sudah terlontar dari mulut kita, karena kalian, dan karena saya bukanlah orang yang akan mengeluarkan tingkah laku yang sama persis setiap harinya.

Saya mungkin bisa menjadi sebuah tembok dingin yang tak peduli apa yang kalian lakukan terhadap saya, dan dengan amat menyesal saya katakan bahwa saya akan betah bertingkah seperti itu. Namun kenapa ada saja dari kalian yang meminta saya untuk mulai mengubah diri. Kenapa harus saya lagi yang mempunyai kewajiban untuk memahami kalian?

Mungkin kalian saat ini sedang berpikir bahwa saya sedang menggerutu, tapi saya katakan pada kalian bahwa jika itu yang ada di pikiran kalian, kalian salah. Saya sedang mendaftar, apa yang membedakan saya dengan orang lain, jika dilihat dari pengambilan spesialisasi proses langkahan kaki menuju ke kedewasaan. Dan hal-hal telah saya sebutkan di atas tadi adalah suatu tanggung jawab, juga rasa sakit yang harus saya jalani akibat dari saya memilih terjun ke dunia yang ternyata lebih "sakit jiwa" daripada dunia nyata yang kasat mata, yang kita tinggali ini.

Mungkin ada sebagian dari kalian berpikir bahwa saya sedang menyesal karena merelakan diri terjerumus di dunia "sakit jiwa" yang saya pilih untuk saya lakukan. Sayangnya, jika memang itu yang kalian pikirkan, pikiran kalian salah untuk kesekian-kalinya.

Bagaimana saya bisa menyesal, jika saya teringat bahwa ternyata saya juga terlatih untuk dapat "menghancurkan" pikiran orang lain? Dibentuk untuk dapat "mempermainkan" hati orang lain, walaupun tak jarang saya "memainkan" hati saya sendiri. Belum lagi pengalaman keberhasilan saya dalam "memporakporandakan" seluruh diri kalian yang bisa membuat kalian menjadi linglung luar biasa, hingga mampu membuat kalian tersungkur dan berlutut di depan saya.

Saya hanya perlu memasang ribuan tembok di depan saya, jika kalian saya pilih menjadi orang yang tidak laik untuk mengisi satu titik kecilpun yang masih kosong, di hidup saya. Dan kalian semakin tak bisa memahami saya, karena saya telah membangun dunia dengan tingkat kenyamanan luar biasa, yang sudah barang tentu, kenyamanan untuk diri saya sendiri.

You can take me for granted, ooo..absolutely you can, but just remember one thing that I have a lot of ways to destroy you, even worse than what you did to me.

Especially how to destroy your heart, leave pains and scar on it!!!


----

Dan suatu pagi di obrolan YM:

Saya: "Morning psycho!"

Seorang teman: "Morning sarap."

Dan suatu sore di obrolan YM:

Saya: "Hooorreee dah mati..."

Seorang teman: "Apaan mati?"

Saya: "Elu."

Seorang teman: "Hahahaha, gue seharian sibuk. Sibuk baca buku."

Saya: "Kerja Nyet!!!!"

Seorang teman: "Gaaaaak ada kerjaan nyeeeeeeetttt...! Ngapain lu, masih idup?"

Saya: "Yah. Need a psychologist who's not a psycho badly!"

Seorang teman: "You come to wrong place."

Saya: "I know. None of us!!!!"

----

"At the end of the day we are all weirdos for others...isn't it lovely?"

Biarkanmu Bersama Waktu...

Andaikan aku bisa memutar waktu dan menghentikannya...
Aku akan kembali ke saat itu...
Saat aku masih hampa tanpamu...
Saat jiwa ini masih terapung berkelana arungi samudera nan luas...

Andaikan aku bisa memutar waktu dan menghentikannya...
Mohonku pada-Nya...
Tak bertemu hidupmu...
Tak berada di pelukmu untuk nikmati cium mesra darimu...

Andaikan aku bisa memutar waktu dan menghentikannya...
Aku akan kembali ke saat itu, di ruang itu...
Hanya kamu, hanya aku...
Kembali berdua...

Andaikan satu kali lagi...
Aku bisa memutar waktu dan menghentikannya...
Aku tak akan membuatnya berhenti...
Dan biarkanmu berjalan bersama sang waktu...

----

Why you are so complicated and ignorant, yet so attractive and loveable...

----

Thanks to my old friend, PV who let me use that quote.