Dua wanita itu duduk berhadap-hadapan di sebuah restoran. Salah satu di antara mereka, sibuk memerhatikan gerak-gerik wanita yang ada di hadapannya. "Ia tak sama seperti saat kali pertama aku jumpa dengannya", pikirnya saat itu.
Teringat Kyra akan hari-hari itu. Jauh sebelum hari ini, di tempat ini, kala mereka berdua duduk di restoran itu.
Dulu. Saat sebatang Sampoerna Menthol atau Marlboro Mild Menthol sering kali terselip di antara jarinya, di tengah obrolan mereka, yang disaksikan beberapa sahabat dan anak tangga di pintu darurat. Saat ketergesaan menjadi sahabatnya, yang membuatnya nyaris tak pernah berjalan, tapi berlari. Tawa bibir yang tak pernah lepas dari gincu merahnya pun selalu merekah di tengah hingar-bingar dering telepon, suara ketikan laptopnya, atau bahkan teriakan teman-temannya, yang kurang lebih berkelakuan sama dengannya.
Tak pernah Tiara mampu meninggalkan hari tanpa membuat dirinya sibuk sendiri, bahkan saat teman-temannya sudah tergeletak lelah kehabisan energi, atau karena sebotol anggur dan bir yang sering menemani plesiran mereka. Tak habis pikir, dari manakah energi yang ia miliki.
Kyra benar-benar tak bisa berhenti berpikir, bagaimana bisa wanita di depannya, yang dulu bertiara indah, dengan warna memukau, kini kehilangan tiara itu. Bagaimana mungkin kaki-kakinya yang dulu hampir selalu berlari, sekarang menopang tubuhnya pun sulit.
Ditambah saat ini, Kyra disuguhi sebuah pemandangan yang membuat hatinya miris. Saat melihat Tiara hanya membolak-balikan buku menu makanan yang ada di depannya. Dengan tatapan mata yang nanar, dan bingung, seolah mengatakan "Ada makanan apa aja sih?"
Kesedihan dan mungkin amarah seorang Kyra sedang memuncak. Seakan protes mengapa ia harus menyaksikan semuanya itu. Mengapa kejadian itu harus dialami Tiar, teman baiknya.
"Mau makan apa 'Ar?"
"Adanya apa? Gambarnya kecil-kecil."
"Banyak sih." yang disusul dengan penjelasan sedikit tentang menu yang ada di sana. Tiar tak bisa melihat dengan jelas, saat kacamata tak tersangkut di hidung dan telinganya. Akhirnya Tiar tak memilih sendiri menu makanannya, namun dipilihkan.
Tak berapa lama setelah mereka berdua selesai memesan makanan, pelayan meminta kembali buku menu yang ada di meja. Kyra mengambil dan memberikan itu semua pada pelayan tadi.
Kyra terus memerhatikan Tiar, yang duduk di depannya. Saat itu Kyra melihat Tiar mulai mengambil alas piring yang terbuat dari kertas, yang ada di depan mereka berdua. Dan mengumpulkannya jadi satu.
"Mau dikemanain?"
"Mau dikasih ke mbak-mbaknya."
"Kenapa?"
"Biar ngga menuh-menuhin."
"Itu khan buat alas makan kamu nanti."
Kyra mencoba menerka apa yang sedang Tiar pikirkan, apakah ia benar-benar tidak suka alas piring itu ada di sana, atau ia tak tahu itu fungsinya untuk apa, "Ah, ga mungkin lah Tiar ngga tau."
Kini Kyra semakin memahami mengapa kekasih hatinya, yang juga teman baik Tiar, belum sanggup menjumpai Tiar selama ini.
Mereka telah kembali ke rumah yang sementara mereka tinggali. Segelas es krim telah disiapkan untuk Tiar. Kyra membawa gelas yang berisi es krim itu mendekat ke arah Tiar. Sesaat setelah Kyra duduk di samping Tiar, ia pun langsung meraih gelas itu, dan ingin menenggak isinya.
"Ar, itu es krim, bukan air putih. Gak bisa diminum. Belum bisa diminum."
Kyra mengulangi kata-kata itu hingga beberapa kali. Namun Tiar tak peduli dengan omongan Kyra, bahkan akhirnya Kyra membiarkan Tiar melakukan keinginannya.
Kembali Kyra mencoba menerka, apa yang sedang dipikirkan Tiar hingga ia tetap keukeuh untuk meminum es krim di dalam gelas itu. Namun ia tak berani melanjutkan pikirannya itu, "Bisa membuatku tambah sedih".
"Bener 'kan ga bisa diminum. Masih belum cair es krimnya. Gini aja ya, aku yang pegang gelasnya, kamu yang nyendok."
Kyra pun memegang gelas itu, sembari meletakkannya di atas kasur yang mereka duduki. Sengaja memang, agar Tiar semakin terlatih untuk bergerak. Kyra semakin tak bisa berkata apa-apa atas pemandangan yang ada di hadapannya saat itu. Tiar sedang berusaha perlahan-lahan menyenduk es krim dan memasukkannya ke dalam mulutnya, hingga es krim itu habis.
Satu yang di hati Kyra saat Tiar berhasil menghabiskan satu gelas es krimnya...
"Ternyata semangat juangnya masih sama. Ternyata ia masih menyimpan tiara itu...di hatinya..."
Rabu, April 08, 2009
Dua Wanita...
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 22.14 0 komentar
Kategori tulisan: Persepsimu
Minggu, April 05, 2009
Menu Hari Ini...
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam 40 menit, akhirnya aku, Karin dan Yudha tiba di Singapura. Perut kami sudah lapar. Apalagi penerbangan kami hari ini terlambat 30 menit dari waktu yang ditentukan. Sampai di Singapura baru pukul 14.20 waktu setempat. Rasanya tak mungkin lagi jika perut kami menunggu lebih lama untuk diisi makanan. Akhirnya Yudha memutuskan untuk membeli makanan di Coffee Bean yang terletak di Mount Elizabeth Hospital.
Selama aku menyantap makan siangku itu, aku mulai memikirkan menu makan malam kami hari ini, "Masak apa ya, buat makan malam?", akhirnya aku putuskan masak Sup Salmon. "Terdengar canggih ya?" Setelah selesai makan, aku berangkat ke Pusat Perbelanjaan Paragon untuk berbelanja.
Belanjalah aku di sana. Ikan salmon, bumbu-bumbu, sayuran dan bahan-bahan lain yang menurutku menjadi bahan dasar sup sudah aku masukkan semua ke dalam keranjang belanjaan.
"Gila ya, Indonesia emang surga belanja makanan. Brokoli 5 dolar? Dah gila apa ya? Di Jakarta 10 rebu dah gede."
Namun sesampainya di kos, aku menelepon mama, apakah bahan-bahan yang aku beli tadi sudah lengkap atau belum.
Ternyata memasak sup ayam tidak sama dengan memasak sup ikan salmon. Mengingat ikan salmon ini tetap berbau amis saat mentahnya. Dan itu harus dihilangkan dengan jahe, serai, jeruk, daun kemangi. Tiga bahan itu tidak termasuk bahan yang aku beli tadi. Terpaksalah aku berangkat ke supermarket lagi untuk kembali berbelanja.
"Anjrit, serai dua batang kecil gini, 50 sen."
Dan sepulangnya aku dari sana, aku mulai mengolah bahan-bahan yang aku beli tadi. Seperti biasa aku hanya memasukkan semua bahan ke dalam panci dan berbekal indera pengecapku. Ini dia resepnya:
1. Daun Bawang
2. Daun Kemangi (atau jika tidak ada bisa menggunakan Basil Leaf)
3. Daun Seledri
4. Tomat
5. Bawang merah
6. Bawang putih
7. Bawang bombay
8. Serai (Lemon Grass)
9. Jahe di potong dan dimemarkan
10. Jeruk nipis
11. Brokoli
12. Jamur Champignon
13. Jamur Enoki
14. Ikan Salmon
15. Knorr seasoning powder, tanpa MSG
16. Kikkoman
17. Garam secukupnya
Cara mengolahnya juga tak sulit, dan tidak lama. Malahan lebih lama memotong-motong bahan masakan ini. Semua bahan dipotong-potong dengan ukuran sesuai keinginan. Ikan salmon yang menjadi bahan utama masakan ini, juga di potong-potong menjadi beberapa bagian, lalu lumuri perasan jeruk nipis di atasnya, dan taburi garam secukupnya, hingga rata dan diamkan sembari kamu menyiapkan bahan lain.
Sisa bahan-bahan yang sudah disiapkan, tinggal dimasukkan ke dalam air. Jujur, urutan memasukkannya pun aku sesuaikan dengan feeling-ku sendiri, alias sesuka hati. Namun tadi yang aku lakukan pertama kali adalah memasukkan daun bawang, tomat, bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Tambahkan Knorr seasoning powder, aduk, tambahkan Kikkoman dan garam secukupnya, sesuai dengan rasa indera pengecapmu.
Lalu, yang lainnya aku benar-benar lupa urutan memasukkannya. Semua suka-suka hati, hingga baru aku sadari semua sayuran dan bumbu sudah masuk ke dalam panci. Jangan lupa untuk terus merasakan kuah sup. Coba rasakan kira-kira masih kurang apa, dan tinggal tambahkan yang kurang itu.
Setelah kuah sup mendidih, baru masukkan daging ikan salmon yang sudah dilumuri perasan jeruk nipis dan garam tadi. Diamkan beberapa saat, hingga daging salmon bewarna merah muda. Jangan terlalu lama merebus daging ikan salmon, karena dagingnya bisa hancur.
Sebelum masakan ini aku berikan pada "juru cicip", aku mencobanya terlebih dulu.
"Hah, enak juga masakan gue. Padahal baru pertama niy masak sup ginian," pikirku tadi.
Saat itu bersamaan dengan Yudha yang masuk ke dapur untuk kesekiankalinya.
"Buset, masak beneran lu? Emang lu bisa masak?"
"Nape lu dah laper? Bolak-balik aja lu. Enak Dha, ntar lu tinggal makan dah."
"Iye, wangi ya."
Dan enaknya masakan ini disetujui oleh satu "juru cicip" utama, Karin, mulai suapan pertama aku berikan padanya. Bahkan saat Yudha masih menyantap makanannya, Karin meminta tambah sup-nya saja tanpa nasi. Setelah aku selesai menyuapinya, giliran aku menyantap hasil masakanku sendiri.
----
"Nyam-nyam, masih ada sisanya untuk besok pagi."
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 20.17 1 komentar
Kategori tulisan: Informasi (Makanan)
Sabtu, April 04, 2009
Lagu Ini (Tak) Kuakhiri...
Beberapa hari lalu, seorang temanku meninggalkan komentar di aplikasi note yang ada di situs jejaring Facebook. Semua tulisanku yang ada di dalam aplikasi itu, adalah hasil pindahan dari Introverto milikku ini. Komentar yang ia tinggalkan hanya 1 kata, hanya namaku, tapi aku tahu dari gaya penulisannya, sepertinya ia sedang berteriak. Kurang lebih komentarnya seperti ini "Ochaaaaaaaaa..!"
Sedikit bingung dengan komentar itu. Mungkin ia bermaksud sedikit "balas dendam", karena seringnya aku meninggalkan persepsi-persepsi tak karuan bebasnya di benak pembaca blogku. Komentarnya itu aku balas, dengan sebuah pertanyaan yang kurang lebih seperti ini: "Kena ama tulisan gue? Jangan GR dech loe."
Lalu kami pun jadi beberapa kali berbalas-balasan komentar di aplikasi itu. Temanku ini akhirnya mengakui bahwa apa yang aku tulis, adalah tepat dengan apa yang ia rasakan saat itu, bahkan ia katakan kalau-kalau aku dapat membaca mimpinya. Dan pada akhirnya aku pun mengakuinya bahwa itu juga merupakan curahan hatiku saat itu, bahkan sampai saat ini.
Kami berdua sama-sama menanti sesuatu. Menanti sebuah kedatangan. Sebuah kedatangan akan kepastian. Tak tahu dalam rentang waktu masih berapa lama lagi.
Aku jadi teringat lagu Andaikan Kau Datang Kembali, yang awalnya dinyanyikan oleh Koes Plus, dan dinyanyikan ulang oleh Ruth Sahanaya, yang sekarang mengiringiku menulis tulisan ini. Tidak semua lirik di lagu itu tepat menggambarkan kondisiku saat ini. Hanya bait terakhir yang memberikan makna tersendiri padaku.
"Lagu ini kuakhiri."
Wahai temanku, aku ingin mengatakan padamu, bahwa aku tidak akan mengakhiri "lagu" ini, aku tak peduli apakah akan membuatku terlihat bodoh atau apapun itu, karena "lagu" ini terlalu indah untuk kuakhiri, dan sakit ini sedang aku nikmati.
Dan untuk dirinya yang aku rindu, cinta dan "benci"...ilu, imu, yaitu singkatan yang kami gunakan saat kami saling berkirim pesan singkat atau Black Berry Messenger...
I do really miss you...Badly...
Dan tak terasa air mata ini pun menetes...dan mengalir begitu saja...
*Sigh....*
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 23.17 0 komentar
Kategori tulisan: Jurnal Hidup
Jumat, April 03, 2009
Ini Aku...
I am just a human being...yang tercipta dari hasil cinta dua jiwa dua raga, dan disempurnakan dengan tiupan nyawa dari Dia yang sesungguhnya memiliki aku dan memiliki hidupku.
I am a daughter...satu-satunya anak perempuan dan paling kecil, di dalam keluarga yang dibangun 40 tahun yang lalu.
I am a sister...untuk kedua abangku yang lebih tua 4.5 tahun dan 9.5 tahun dariku.
I am a dreamer...yang tak akan berhenti bermimpi, dan tak kenal lelah untuk mencapai semua mimpinya.
I am a writer...yang mampu menyentuh orang lain dengan kata-kata yang tertumpah di dalam tulisannya, yang tak jarang merupakan perjalanan hatinya sendiri.
I am a lover...dalam segenap rasa yang tercurah dalam pengorbanan yang terbungkus rapi dan tersegel dengan gengsi, serta seribu topeng.
I am a friend...untuk mereka yang menganggapku demikian.
I am a teacher...karena bagiku seorang guru bukan hanya mereka yang mengajar di muka kelas, di hadapan para muridnya. Guru adalah mereka yang sudi membagi apapun itu bagi lingkungannya.
I am an Introvert, iNtuitive, Thinking and Perceiving...setidaknya itulah karakteristikku yang tertangkap oleh salah satu alat tes yang pernah aku isi.
Finally...it is just me...
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 20.56 0 komentar
Kategori tulisan: Jurnal Hidup
Why I Sing...
-Why I Sing, by Kirk Franklin-
Aku yakin pasti ada yang bertanya-tanya, "Tumben, kenapa si Ocha lagi religius kayak gini ya?"
Dan jawabku adalah "Hmmmm, I do love this song, and once I sing it at Christmas Concert 4 years ago. Lagi keinget aja ama niy lagu. Syairnya keren bouw."
Oh ya, satu lagi "Segila-gilanya aku?! Sampai sekarang, aku masih berniat, tidak akan melangkah keluar dari Gereja Katholik."
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 00.59 0 komentar
Kategori tulisan: Jurnal Hidup, Laguku
Kamis, April 02, 2009
Jadi Ini Cuma...
"Duuuhh, kasian amat mukanya kucel gitu."
Ia tak berhenti memandang wajah kekasihnya yang berjalan mendekati, dan yang sudah lama pula tak ia jumpai.
"Udah selese?"
"Bentar lagi, Mas. Aku tinggal tunggu Ice Caramel Macchiato."
"Aku tunggu di mobil ya."
"Okay."
Tak berapa lama kemudian...
"Masih belom juga?"
"Belom, tau niy lama."
Ia tersadar seketika, mereka mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Kemeja putih dan celana abu-abu tua.
"Eh, baju kita sama."
"Cie, yang udah kerja, gimana kantor?"
"Ribet seperti biasa."
Ia tak lagi pedulikan bahwa itu tempat umum, yang sudah mulai sepi pengunjung. Ia pun kemudian hamburkan peluknya. Memeluk mas-nya dari belakang, dan mereka pun tertawa bercanda seperti biasanya, sambil berbincang, walau wajah mereka tak berpandang-pandangan.
"Kamu ke mana aja sih. Capekh ya?"
"Gak kemana-kemana, cuma di kantor."
"Jangan-jangan dah selingkuh nih, dah sama perempuan banyak lagi."
"Kok. Menurutmu gitu ya? Kalo aku sama perempuan lain, ngapain aku balik ke kamu."
"Sial. Hahahaha."
Ia pun memeluknya lebih erat, dan membisikkan sesuatu tepat di sebelah telinga kirinya.
"I love you, Baby", yang membuatnya tak dapat membalas perkataannya itu.
"Mbak, Macchiato saya sudah selese?"
"Belom. Shakernya rusak nih tiba-tiba."
"Batalin aja dech."
"Yuk, Mas, kita pulang aja. Nanti aku pijetin ya di mobil."
Tak lama kemudian, ia pun bersenandung sebuah lagu indah...
When she wakes me, she takes me back home...
-----
"Anjrit, cuma mimpi lagi, 'Cha."
"Mang enak, Nyong!"
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 08.05 0 komentar
Kategori tulisan: Persepsimu
Rabu, April 01, 2009
Antara Bodoh dan Setia...
Menanti? Hmmmm...hal yang paling tidak menyenangkan.
Dalam sebuah penantian, ada sebuah harapan, yang kadang redup, kadang kembali bersinar terang.
Dalam sebuah penantian, ada sebuah ketidakpastian. Melainkan hanya ada sebuah kemungkinan. Mungkin yang dinanti akan tiba, mungkin saja tidak.
Dalam sebuah penantian, berarti ada rentang waktu. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, atau tahunan.
Dalam sebuah penantian ada sebuah kebodohan, atas bersedianya diri untuk tersiksa.
Dalam sebuah penantian ada kesetiaan, yang menyebabkan ia tampak seperti orang bodoh.
Dalam sebuah penantian ada cinta yang akan terhambur, saat dua mata hati kembali ke rumahnya masing-masing...
Dan mereka berdua tak lagi bodoh, melainkan setia...
-----
"Damn, sounds familiar!"
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 22.36 0 komentar
Kategori tulisan: Persepsimu
Kau Memintaku Mati, Sayang!?...
Jauh aku dari rumah hatiku...
Tempat aku merasa nyaman...
Menikmati petik gitarmu...
Meringkuk di pelukmu...
Kau memintaku untuk mati...
Saat tak satu kata kau beri untukku...
Saat bungkam atas segala tanyaku...
Saat...apalagi aku tak tahu nanti...
Terus cari titik terang itu...
Di gelapnya ruang sepi...
Kala duduk berteman hujan yang seolah berteriak...
Mewakili tangisku...
Di kelabunya hati yang gundah...
Yang sudah lama tak kau sentuh...
Dan tak lagi membuat mata ini berbinar...
Seterang saat kau memintaku berjalan bersamamu...
Sayangku,...
Perpisahan itu belum terucap...
Dari mulutmu...
Dari mulutku...
Rangkai dua hati ini lagi, Cinta...
Bawa hatiku ke rumahnya lagi, Sayang...
Biar jemari ini genggam jemarimu lagi, Oh Kekasih...
Peluk aku lagi, dalam dekapmu lagi, Hon...
Pikiran seorang Rufina Anastasia Rosarini pada saat 16.14 0 komentar
Kategori tulisan: Puisiku
