Minggu, Mei 31, 2009

Saya Rindu Kamu...

Baru beberapa hari saja saya kembali ke dunia yang saya paham betul adalah dunia yang sangat melelahkan, saya sudah merasakan segala kehilangan.

Kehilangan kesenangan pekerjaan yang tiga bulan terakhir ini saya lakoni.

Saya kembali terpaksa mengurangi durasi saya untuk menulis, dan merelakan diri tertimbun dengan tumpukan piles pekerjaan yang sepertinya sebentar lagi akan membuat kepala saya meledak.

"You know what? You give me a lot of homeworks."

Dan perempuan yang duduk di depan saya, yang juga sedang membuka laptop, dengan senyum lebar dan gayanya yang lucu, merespon omongan saya tadi...

"I know and that's gonna make your head to explode?"

yang akhirnya disusul dengan sedikit obrolan...

"Yupe. Actually I do love pain but this pain is too..."

"...painful, rite?"

"No doubt."

Memang sebenarnya pilihan ada di tangan saya, apakah saya akan terus menjadi full time blogger atau menjadi part time blogger. Yang kemudian berakhir dengan keputusan saya untuk pensiun menjadi full time blogger.

Pensiun dari segala kesenangan yang terjadi karenanya. Keheningan malam yang selalu menjadi teman setia saya, komentar-komentar, curhat-an mereka yang membaca tulisan saya, kehilangan cinta menjadi pujangga amatiran yang mampu membuat miris hati orang lain, sampai kehilangan waktu untuk membaca blog-blog yang bertebaran di dunia maya.

Harus kembali bekerja, seharusnya bukan menjadi beban untuk saya, dan menjadi penghalang saya melakukan hal yang lain, termasuk menulis jurnal hidup yang biasa saya bagikan melalui blog, kepada teman-teman di dunia maya. Itu semua karena didikkan dari para mentor hidup saya, lebih dari cukup untuk menjadi bekal saya meniti jalan panjang yang benar-benar baru dan masih belum terpasang rambu apapun ini.

Hasil didikan dari salah satu mentor hidup saya, yang selalu saya ingat adalah agar hidup secara penuh dan jangan pernah segalanya dijadikan beban. Dan juga satu omongannya yang mengutip dari omongan Yoda, bahwa hanya ada lakukan atau tidak lakukan, dan tidak ada kata mencoba, cukup mampu membuat saya kembali mengangkat kepala, ketika tumpukan kemalasan dan rasa pesimis yang terbungkus dengan paranoid juga gengsi, sedang mendominasi diri yang mempunyai salah satu karakter moody ini.

Namun daya fisik, memang perlu beradaptasi dengan siklus aktivitas hidup yang berubah. Tak bisa dihindari, bahwa lelah pikiran tentu akan mengakibatkan lelah fisik membuat saya tak sabar merebahkan tubuh di atas kasur, setelah saya membersihkan diri sepulang saya beraktivitas. Dan tentu membuat saya menghindari membuka laptop saya kembali.

Saya rindu dengan tulisan-tulisan saya sendiri. Saya rindu biarkan "tarian" pikiran, rasa dan hasil tangkapan indera-indera yang saya miliki, juga khayalan saya, tertumpah di sini. Saya rindu dengan sakitnya cinta yang biasa saya tuangkan dalam puisi melankoli "kacangan" yang saya ciptakan, yang ternyata juga mampu mengiris hati beberapa orang.

Saya rindu dengan kalian...

Senin, Mei 25, 2009

Honeymoon Is Over, Beibihhhh...

Dengan sangat terpaksa dan melihat kondisi "kantong" yang sudah tak berisi, aku pun (kembali) dengan amat sangat terpaksa berusaha mencari pekerjaan.

Berkali-kali menerima panggilan wawancara, dan berkali-kali pula aku sendiri yang "menggagalkan" wawancara yang sedang berlangsung dengan segala pikiran dan apapun yang aku batin yang sangat tercermin keluar saat aku wawancara. Contohnya seperti ini...

Wawancara pertama di salah satu perusahaan besar multinasional, yang berkantor di sebuah gedung canggih nan elit di kawasan sepanjang Jl. Jend. Sudirman, Jakarta. Dan saat aku melihat ia yang mewawancaraiku pertama kali.

"Wah, asik nih orang. Funky. Ngomongnya enak. Wawancaranya juga canggih. Nice person. Enak nih kalo dia user gue."

Dan ternyata dia bukan user-ku. Namun kabar gembira pun aku terima, yaitu wawancara kedua di perusahaan yang sama, untuk posisi yang sama, namun kali ini dengan calon atasanku kalau aku diterima nantinya.

Aku pun datang memenuhi panggilan wawancara kedua itu. Dan setelah sekian menit menunggu dengan duduk manis di ruangan yang diminta, aku melihat dari kejauhan seseorang mengarah ke ruangan di mana aku duduk. Pikiran inilah yang saat itu muncul...

"Yahhhhh, ini usernya? Waduuuhh...kok kayaknya pinteran gue ya, trus sepertinya menye-menye nih orang."

Wawancara pun tak berhasil aku laksanakan dengan baik. Sudah aku sadari sejak aku masih menjalani wawancara tersebut. Belum lagi kepiawaiannya dalam teknis wawancara tidak sebaik interviewer yang pertama. Hasilnya, pikiran-pikiran dan urusan ngebatin lainnya pun terjadi.

"Ah, nih orang juga nanyanya kacau. Gak tau mau nanya apaan dia. Biasa wawancara orang ga sih?"

Namun bukan berarti saat itu aku tak mencoba mengontrol diri sendiri looo, walau rasanya aku gagal.

Kegagalan yang aku rasakan ternyata tidak untuknya, tidak untuk yang mewawancaraiku. Terbukti dengan...

"Minggu depan saya minta kamu untuk datang lagi ya. To do something yang tadi saya utarakan."

"Okay. Hari apa?"

"Saya lihat jadwal saya dulu, nanti saya hubungi lewat telepon."

Setelah memasuki elevator yang membawa aku turun, aku pun kembali berpikir...

"That person granted me for 3rd interview? Gue ngga failed niy? Tapi agak males ya punya atasan macem tuch orang."

Aku pun kembali melanjutkan perjalanan hari itu, yang pada akhirnya aku putuskan untuk kembali ke rumah saat matahari masih sedikit bersinar.

Menjatuhkan diri ke atas sofa, dan meraih Bébé tercintaku untuk memeriksa semua surat elektronik yang masuk hari itu. Dan di antara sekian surat yang masuk, aku temukan satu surat dari perusahaan yang tadi mewawancaraiku. Isinya adalah dibatalkannya rencana pertemuan berikutnya.

"What...waaaa...bener feeling gue, menye-menye sungguh itu orang. Beneran ya gue ga boleh ngebatin. Rusuh."

Kesal? Pasti! Namun pastinya setelah beberapa lama, aku bisa menerima dan mensyukuri.

"Gimana bisa kerja bareng, kalo chemical pertamanya aja ga dapet."

Berhari-hari berlalu dari peristiwa yang mengesalkan itu. Aku pun kembali terbenam dengan pekerjaan utamaku sekarang-sekarang ini, yaitu menjadi full time blogger, walaupun sambil harap-harap cemas dan bingung bagaimana agar "kantong" kembali terisi rutin.

Setelah sekian lama tak membuka Yahoo Messenger, hari Rabu lalu akhirnya aku membukanya. Seperti biasa, aku menemukan adanya offline messange. Dan aku menemukan satu pesan di sana...

"Ocha apa kabar? Dah lama ngga keliatan?"

Ternyata dari teman lamaku. Aku pun membalas pesan tersebut.

"Baik, kenapa?"

Namun tak dibalas. Aku pun melanjutkan aktivitasku yang saat itu baru saja menyalakan laptop dan mulai memeriksa semua akun media internet yang aku miliki. Sesaat aku membuka salah satu akun surat elektronikku, aku menemukan satu surat darinya, yang intinya ia membutuhkan tambahan seorang karyawan di perusahaan miliknya.

Tak berapa lama, temanku ini membalas pesan yang aku tinggalkan di Yahoo Messenger, yang kemudian kami lanjutkan dengan obrolan mengenai urusan pekerjaan itu.

Sampai di suatu titik perbincangan ini terjadi...

"Elo mau gue bantu cariin orang atau apa? Kalo mau gue bantuin cariin orang, elo mau yang kayak apa, selain yang capable dengan kerjaan yang tadi elo uraikan."

"Kalo elo sendiri tertarik ngga?"

"Elo sendiri tertarik ngga sama gue?"

"Kok elo bales nanya?"

"Hehehehehe..hmm kualitas gue sebagai temen dengan kualitas gue di kerjaan jelas beda loo. Makanya gue tanya balik ke elo."

"To be honest, you're on my top list candidate. Terus gantian donk elu yang sekarang jawab gue."

"Gue tertarik, iya. Wow, growing company berarti masih perlu 'benah-benah' kiri-kanan, dan gue dipercaya total sama elo buat megang from a to z urusan orang-orang tempat loe? And gue ntar lebih ke arah mikirin konsepnya? And I get sub-ordinate, double wow. New and challenging."

"Ya udah, elo main ke kantor ya."

"Gak besok 'kan?"

"Besok gue masuk sih, dan orang yang bakal elo gantiin juga ada."

"Senen aja lah ya. Eh ya, satu lagi, gue mendingan tegas di awal, gue ngga suka yang menye-menye. Kalo misalnya nanti kita deal, urusan pekerjaan tidak sama dengan urusan pertemanan ya. Kalo elo ngga suka sama kerjaan gue, jangan pernah ember ke mana-mana, mending elo ngomong langsung di depan muka gue. Okay?"

"Okay. Dan juga sebaliknya ya 'Cha."

"Sip."

Dan hari ini semua terselesaikan dengan baik. Semuanya. Dari perbincangan urusan detil pekerjaanku nanti, sampai akhirnya tentang urusan gaji, yang semua perbincangan itu kami lakukan sembari makan siang.

Sebelum akhirnya benar-benar mengakhiri perbincangan mengenai pekerjaanku...

"Senen minggu depan lah ya gue masuk. Gue leyeh-leyeh dulu seminggu."

"Kurang leyeh-leyehnya 3 bulan? Yang elo gantiin minggu depan 'dah cabut."

"Tapi ngga besok 'kan?"

"Elo gue kasih satu hari lagi untuk leyeh-leyeh. Rabu masuk yah."

Kami pun berpisah. Dan karena letak kantor yang tak jauh dari Senayan City, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sana.

Sembari berjalan, tiba-tiba aku ingin sekali menelepon seseorang. Bukan dirinya yang seharusnya berada di sampingku, tapi dirinya yang lainnya.

"Anjrit, gue belom bayar tilpun lagi. Hyaaaaahhh. Kesal."

Berarti aku harus menunggu hingga aku tiba di rumah, untuk bisa meneleponnya. Setelah aku mendengar lagu Malaikat Juga Tahu untuk beberapa kali, telepon itu baru diangkat.

"Kenapa, Sayang?"

"Sibuk ya?"

"Gak, in between meetings. Kenapa, Ndut?"

"Kok gendut sih?"

"Kan buncit perutnya."

"Dah ngga weeekkk."

"Kenapa, Nak Kecil."

"Aku lusa dah kerja."

"Huuaaa, anak kecil dah gede, dah bisa kerja wa?"

"Sedih."

"Kok sedih?"

"Iya, liburannya abis."

"Tapi kerenya juga pensiun 'kan. Di mana, jadi apa Cil?"

Dan aku pun menjelaskan detil kepadanya, hingga gaji yang aku terima.

"Ya, banyak belajar, tantangan, walau gajinya ngga segede posisi itu kalo di big company."

"Ah gaji juga nomor sekian 'kan untuk kamu biasanya. Dan segitu 'dah gede juga hari gini."

"Yupe. Hey you're the first one yang aku kasih tau."

"I'm honored."

"Ya, udah aku cuma mau ngasi tau itu, kamu lagi nunggu meeting lagi 'kan?"

"Iya sekalian nungguin magriban."

"Duh senengnya denger kamu magriban lagi."

"Hihihihi."

"Kok hihihihi?"

"Hihihihi aja."

"Ya, udah gih, magriban dulu."

"Love you."

"Love you too."

----

Seseorang Ocha yang aslinya adalah manusia idealis, ternyata kali ini bisa mengorbankan satu idealismenya meniti karir di perusahaan besar. Ia mentahkan semuanya itu, demi suatu idealisme lainnya, yaitu belajar untuk bisa "memporakporandakan" tempatnya bekerja nanti.

Untuk seseorang yang sampai saat ini belum aku beritahukan langsung berita ini, "Nanti aja ya, aku tunggu kalo kamu dah selese sama duniamu sendiri. Yang aku ngga tau kapan, hopefully ngga forever."

So My Friends, my honeymoon is already over by this Wednesday..huaaaaahh..

Sabtu, Mei 23, 2009

Biru...



Aku benci jika hari seperti ini muncul. Hari di mana aku sangat merindukanmu. Dengan segala khayalan, dan "putaran film" saat kita berdua beberapa waktu lalu, yang terus-menerus "menari" dan "berdansa" di kepalaku.

Ditambah dengan rasa menggebu ingin memeluk tubuhmu yang juga memeluk tubuhku. Rasa yang kian memuncak, membara hingga membuat amarahku pun kembali berada di titik klimaksnya.

Kembali aku harus bersusah payah untuk menidurkan semua rasa yang tiba-tiba muncul, bagai maling yang memasuki rumah, yang jelas tanpa undangan, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Mungkin selama ini aku terlihat seperti tak membutuhkanmu, tapi aku bertopeng. Mungkin selama ini aku terlihat kuat untuk memenuhi semua keinginanmu, dengan berusaha tak merengek padamu, biarkanmu mempunyai dunia sendiri, tapi itu semua karena aku gengsi. Dan karena ingin disebut sebagai bukan perempuan menye-menye.

Meskipun aku tahu, aku akan kembali berhasil memadamkan bara rinduku, hanyutkan amarah, walau tanpa aliran hujan.

Aku hanya bisa tuliskan dalamnya hatiku, yang sedang aku dengarkan dengan baik saat ini. Dan yang masih katakan bahwa aku merindumu.

imu, ilu, and want u...

Jumat, Mei 22, 2009

Di Ambang Batasku, Aku Mencintamu...

Gambar aseli kreasi dari penulis Tulisan Seorang Introvert

Aku mencintamu di ambang batas sabarku...
Yang tak pernah aku relakan untuk mati...
Pun tak pernah inginku biarkan sirna...

Aku mencintamu di ambang batas rasa rinduku...
Yang tak pernah habis mengkhayalkan...
Hadirnya dekap tubuhmu yang mampu hapus lukaku...

Aku mencintamu di ambang batas harapku...
Yang tak pernah berhenti aku hidupkan lagi dan lagi...
Tak tahu sudah berapa kali...

Aku mencintamu di ambang batas perihku
Yang tak lagi menyiksa...
Ataupun tinggalkan sayatan...

Aku mencintamu di ambang segala kepasrahan...
Yang tak lagi meranakanku...
Yang hanya terucap dalam daras doaku...

Aku mencintamu di ambang batas cintaku...
Yang tak pernah berhenti mencintamu...
Pun tak pernah mati katakan bahwa aku mencintamu...

Kamis, Mei 21, 2009

Lanjutkan Teman!!!...

Hmmm...akhir-akhir ini aku menemukan beberapa kebingungan dan kesenangan.

Bingung, sebenarnya 4.5 tahun belakangan ini aku kuliah di fakultas apa ya? Tak tahu mengapa, selama masih diberi kesempatan untuk berstatus full time blogger, aku menemukan banyak temanku di Fakultas Psikologi di universitas yang memiliki lokasi paling strategis dan elit di Jakarta, mempunyai passion di dunia seni dan sastra yang sangat besar.

Hal ini terlihat dari blog-blog yang mereka miliki. Dari yang berhasrat menulis, menggambar/membuat ilustrasi yang tentu merupakan buah dari pikiran, perasaan dan khayalan mereka, sampai yang berhasrat menyalurkan katarsis di dunia teater.

Katarsis. Ya, mungkin istilah itu tepat digunakan. Katarsis, yang dengan bahasa mudahnya, disebut sebagai pelampiasan.

Seni yang tertuang dalam blog adalah media pelampiasan untuk mengeluarkan apa yang ada di kepala dan hati mereka, termasuk aku tentunya. Dan ternyata memang ada hubungan antara dunia psikologi, media katarsis melalui seni dan juga blogging (walaupun hipotesis hubungan antara psikologi dengan urusan blog-nge-blog yang nyeni sebagai media katarsis ini belum dibuktikan).

Dilatih selama beberapa tahun untuk lebih dapat memahami manusia, berarti pula manusia-manusia ini idealnya lebih dapat memahami perbedaan individual setiap onggokkan daging yang berisi jiwa, yang tak pernah ada satu pun yang sama, termasuk memahami diri sendiri dan bagaimana harus bertindak, bertingkah laku, berinteraksi dengan manusia lain, dan mengekspresikan segala rasa dan pikiran ke dunia di luar diri sendiri.

Perbedaan individual inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya perbedaan media ekspresi yang dipilih untuk dilakukan oleh masing-masing individu.

Dan pilihan media ekspresi melalui tulisan adalah yang menjadi pilihanku. Sesuai dengan aku apa adanya. Tujuannya adalah untuk membuat orang lain mengerti apa yang aku rasakan, dan aku menyampaikannya dengan media yang paling nyaman bagiku sendiri.

Bagiku sendiri, seperti yang sudah aku tuliskan di tulisanku beberapa bulan lalu, menulis tak lagi hanya sekedar hobi, melainkan passion. Mengutip kata Rene Suhardono dalam acara talkshow mingguan di salah satu radio ternama di Jakarta, sesuatu pekerjaan dapat dikatakan sebagai passion, jika kita tidak bisa tidak untuk terus mengerjakannya, melakukannya; merasa ada yang kurang jika kita tidak melakukannya.

Satu hari saja aku tak menuliskan sesuatu di blog, rasanya ada yang aneh, apalagi saat-saat seperti sekarang ini, di mana aku masih mempunyai banyak waktu luang.

Menurutku, ada satu nilai plus dari media ekspresi melalui tulisan ataupun gambar, yaitu kita tak perlu repot-repot menunda lebih lama lagi dalam mengekspresikan seluruh pikiran dan rasa. Apabila saat itu kita sedang marah, ya kita hanya perlu mencari secarik kertas dan pensil atau pena, tidak perlu menunggu sosok orang yang membuat kita marah, sampai muncul di hadapan kita lalu kita bicara atau memarahinya 'kan? Apalagi kalau orang tersebut tidak bisa atau tidak mau mengangkat telepon dari kita ataupun tidak mau menemui kita, tambah kesal bukan?

Mendapati banyak teman yang mempunyai hasrat yang sama tentu menyenangkan, dan tentu akan semakin memotivasi lebih banyak lagi bagi kita untuk terus menghasilkan karya. Alih-alih hanya meratapi nasib, atau hanya menimbun tumpukan kekesalan dan segala rasa juga pikiran, lebih baik semuanya itu dituangkan dalam sesuatu hal yang baik dan berguna. "Ya itung-itung, 'rawat jalan' sambil berbagi", agar yang lain tak mengikuti kesalahan kita (atau malah menambah durasi "rawat jalan" orang lain).

Yang jelas, akhir-akhir ini kekagumanku akan dunia maya sedang memuncak.

Dibalik keegoisan manusia di dunia nyata yang sering terekam kamera para jurnalis dan menjadi headlines berita di surat kabar maupun televisi, ataupun tingkah laku para "penyandang autisma" yang hanya terjadi jika sedang berhadapan dengan komputer/laptop dan juga internet, ternyata makhluk-makhluk ini adalah makhluk yang (masih) mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Semua itu selalu bisa terbukti pada saat aku (dan mungkin kamu) mencari sesuatu di internet.

"Apa sih yang ngga ada di internet? Dari hal busuk sampai yang terbaru, dari yang mendidik sampai yang merusak, dari yang pake bayaran sampai yang gratisan. Mungkin mereka manusia-manusia super duper mega jumbo egois dalam kehidupan nyata, tapi tidak saat bekelana di dunia maya," kira-kira itulah pikiran yang sering muncul di kepalaku, saat aku sedang menelusuri dunia tak nyata ini.

Dan akhir-akhir ini, hal yang membuatku terpana adalah karya-karya manusia-manusia yang tidak egois, manusia yang masih mau berbagi, yang tertuang dalam media ekspresi gambar/ilustrasi.

Apalagi setelah mengunjungi dua situs yang menyajikan hal itu (*tautan situs ada di elemen tambahan Karya Tetangga di blog-ku ini, dengan nama elondistract dan The Dancing Animal*), motivasiku untuk kembali menyentuh salah satu seni yang kurang aku dalami, tiba-tiba menggebu-gebu.

Ya, menggambar atau ilustrasi atau melukis adalah salah satu dunia seni yang sedikit sekali aku sentuh, selain dunia teater (seni peran), yang malahan sama sekali tak tersentuh olehku.

Alangkah indahnya jika tulisan dan ilustrasi, cerita/narasi dan gambar dapat saling melengkapi bahkan membuat sempurna penghayatan siapapun yang diajak berinteraksi.

Keinginan untuk dapat sedikit mengekspresikan sesuatu dengan gambar/ilustrasi memang sudah ada dipikiranku dari dulu, tapi pikiran bahwa aku tak pandai menggambar, selalu mendominasi dan membuatku mengurungkan niat untuk menekuni dunia ini.

"Ahhh, ga ada bakat gambar gue."

Namun seperti tadi yang aku sampaikan, niat untuk dapat mencoret-coretkan tinta selain ke dalam bentuk tulisan, muncul tiba-tiba setelah kunjunganku ke dua situs tersebut. Dan cukup mampu membuatku memaksakan diri untuk bisa menggambar lagi.

Hasil pemaksakan diri, yang berhasil aku ciptakan ini, sedikit membuatku tersenyum...

"Ternyata sisa-sisa pernah menang lomba gambar waktu SD, masih ada yach. Walaupun yaaa, gambarnya masih kayak gambar anak SD. Hahahhahaha."

Hmmm...dan ini hasil pemaksaan terhadap diri sendiri, bahwa aku mau mulai belajar menggambar kembali:



Yang hanya bermodal aplikasi Paint, dan mulai kesal dengan terhapusnya aplikasi Photoshop dari laptop tercinta, "Gue pinjem CD Photoshop buat Vista dounks!?? Hahahahaha."

"Eh terus, gambarnya jangan diketawain ya, jelas masih jauh lebih canggih dan keren gambar-gambar kalian!"

Sekali lagi, berekspresi dan berkarya? LANJUTKAN Teman-teman!!!

Oh ya, untuk para pemilik ataupun para kontributor/ilustrator dua situs tersebut, "I'm one of your fans, keren abis gambar kalian!"

Tawaran Ilusi...

Cinta, kau tawarkan aku segenggam harapan...
Yang terlukis abstrak oleh desau angin...

Cinta, kau tawarkan aku segelas mimpi...
Yang tertuang dalam gelas retak...

Cinta, kau tawarkan aku ribuan janji...
Yang dituliskan tinta putih di atas kertas putih...

Cinta, kau tawarkan aku dirimu...
Yang mendingin bagai mayat mati suri...

Cinta, kau tawarkan aku sebuah Cinta...
Yang tersimpan hati hingga menghujamnya...

Rabu, Mei 20, 2009

Kumpulan Komentar...

Hai, "tulisanku" kali ini, hanya berisi beberapa komentar dan testimonial yang dikirimkan ke beberapa media internet milikku.

Aku hanya ingin menyampaikan terima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan diri mampir, membaca, memberi komentar, marah-marah, maki-maki, dan mengirimiku apapun, melalui Friendster, Facebook, Introverto dan seluruh akun surat elektronik yang aku punya.

Maaf sekali lagi, tak semua komentar dapat aku terbitkan.

Dan dari yang sebagian diterbitkan itu, di bawah ini beberapa di antaranya...

Dari Valdy (15 Maret 2004, Friendster)
:

Ocha itu...JUDESSSSSS....tampangnya! ahahahaha, gila pertama kali gue dikenalin, nih anak cantik, tapi kok raut wajahnya itu lho...bikin gue takut2! Jujur, gue sempet suka banget sama lo...*anjrit, kebongkar deh*

Huheuheuh, anaknya dewasa banget...jauuuuuuhh, lebih dewasa dari umur fisiknya! Sering jiper k'lo lagi ngobrol sama dia. Nice & ramah, setelah gue kenal dia...bener kata2 lo ndiri, lo itu gak pernah mau basa basi, itu gue suka banget!rada2 gila kerja, tapi knows how to have fun!! Kapan neh, jalan bareng lagheee?!?!?

Dari Shima (20 Maret 2004, Friendster):

Cha!!! Wah bingung nih ngasih testi buat temen SMPku yang satu ini.. temen gosip dan ngobrol yg seru waktu masih di SMP.. gue banyak dapet bocoran tentang gebetan2 gue dulu di SMP dari Ocha.. temen yg setia, baik hati, dan tidak sombong. The coolest part about her is that she's into music.. Gue tau dia nyanyinya bagus... Dulu ikutan music ansemble kok di SMP.. dan dia main piano juga... Pokoknya Ocha AIGHT deh orangnya!!

Dari Muning (4 April 2004, Friendster):

KAAAAANNNCHHHHHHUUUUUUUUUTTTTTTTTT!!!!!

Dari Yana (17 April 2004, Friendster):

Ocha.. Thank you for organizing our small PL reunion when I went home last
Christmas. You're the best EO we have deh, Cha! It was good to see you after all these years.

Dari Meeko (27 April 2004, Friendster):

OCha..? hahahah NGGA ADA MATINYA...!!!
cup cup waw waw chaa....!!

Dari Ingrid (2 Agustus 2004, Friendster):

Ocha itu adik ipar gw. Anaknya ok banget, & a good auntie for my daughter Jelita. Pintar nyanyi & main piano. Sayang banget sama doggies. Wish you all the best, for your future & career !

Dari Andini (27 Oktober 2004, Friendster):


ocha adalah temen buat rebutan... mulai dari rebutan makanan... rebutan telpun umum sekolah... sampe rebutan cowok! bukan begitu bukan? ocha adalah temen hang out dikala jomblo... soalnya kalo udah nggak jomblo mah ribet sendiri deh ama dunianya!

Dari Karin (5 Mei 2005, Friendster):

##For in romance... all true love needs is a chance... And maybe with a chance you will find... you too like I.. overjoyed.. ##

Dek.. dek.. such journey we endure.. Sudah kau temukan jawabanmu? Masuk psikologi itu bikin tambah puyeng.. tapi gak pa palah.. One thing for sure.. masuk psikologi itu harus ngerti and bisa nerima "individual differences", dengan gitu.. duniamu jadi lebih berwarna..

Met belajar.. met naik tingkat.. dan met menunaikan tugas-tugas perkembangan.... luv ya sis..

Kapan kita ke pantai bawa goldie, joey, berty... dan si tongat...

Dari Isabella Noya (27 Mei 2005, Friendster):

ochachachachacha.. hehehe.. temen seperjuangan gue di stat! hohoho.. occcchhaa pertama kali gue liat ini manusia,, bussseettt gue kira umurnya dibawah gue, taunyaa.... hahaha but anyway, its fun to have a friend like u though! ;p ocha tuh agak keras orangnya, brisik bgt,, heheh,, independent kind of girl bgt!! keliatan deh!! hehehe,, it seems like she doesnt need a guy for herself coz she can do anything alone! hehehe.. cha, nice to have a friend like you!! really does! anndd,, kita lanjutkan perjuangan bersama2!! hehehe,, mmmwwaaahhh!!

Dari Muning (12 September 2005, Friendster):

jutek loe pooooooooooooooolllll!!!!! :P

Dari Rully (18 Februari 2007, Friendster):

Selamat berkurang jatah hidup 1 taon di dunia yaa... senengnya makin mendekati eternity....


Dari Adiet (24 Maret 2009, Komentar Note Facebook untuk Writing is My Passion):

you're one of my favorit writer cha....keep writing

Dari Albi (25 Maret 2009, Komentar Note Facebook untuk Writing is My Passion):

hebat.. i wish i could write as good as you..

Dari Anonim (20 April 2009, Komentar Introverto untuk Pemakaman):

coool...lage-lage g merasa tertohok...g suka banget kalimat lu...dunia selalu memaksa kita untuk mati rasaaa...damn..!

Dari Stella M. (1 Mei 2009, Komentar Note Facebook untuk Sebenarnya):

ca... Sebenernya gue suka krn.... "haduuh,anjreeet, kyk tersindir..." ahhahahaha....

Dari Astrid (8 Mei 2009, Note Facebook untuk Hate You):

kayaknya g tiba2 jadi fans berat notes lu y cha?haha paraah

Dari Anonim (10 Mei 2009, Komentar Introverto untuk Mementahkan Gengsi):

Tulisan loe jujur, tulus dan dari hati.. Terusin ya...kejujuran itu mahal..

Dari Risya (20 Mei 2009, Komentar Note Facebook untuk Aku Tak Tahu, Sayang):

ca, bagus tulisannya :)

Dari Gilang (20 Mei 2009, Komentar Note Facebook untuk Aku Tak Tahu, Sayang):


mata da setengah watt aja msi mampu bikin tulisan menyayat hati macem gini..gimana klo mata lo seger ya cha?? teriris sudah pastinya..

klo gw sama kyk astrid suka bagian ini..

"Aku tak tahu mengapa aku biarkan diri ini mencintamu...
Yang membawaku kembali ke jurang kehampaan...
Atas diri yang kembali kehilangan arah..."


----

"Ga papa 'kan jadi sedikit narsis, hehehhehe. Tetep mampir, tetep ngasih komentar ya."

I Love You, Mas...

Teringat kejadian beberapa tahun silam.

Saat aku mendengar seorang temanku yang tiba-tiba memanggil seseorang dengan sebutan 'Mas'. Memang pria yang dipanggil dengan sebutan 'Mas' itu, telah berubah status untuk temanku ini menjadi suaminya. Mereka telah menikah.

Namun tak tahu mengapa pikiran inilah yang muncul di dalam pikiranku...

"Wah, dah berubah sekarang panggilannya. Dulu padahal langsung manggil nama."

Memanggil seseorang dengan embel-embel sebutan 'Mas' di depan nama atau di belakang kalimat yang kita ucapkan, mempunyai sedikit cerita untukku. Lebih tepatnya, aku mempunyai pikiran sendiri tentang hal ini, yang mungkin tak lazim oleh banyak orang.

"Mas..."

Wadddoooowwww...beneran deh, terus terang aku paling malas jika aku harus atau sebaiknya memanggil seseorang dengan sebutan itu. Rasanya ingin sekali mulutku menjadi terkunci. Dan yang pasti kata itu membuat telinga ini jadi gatal.

"Kewajiban"-ku memanggil kedua kakakku dengan sebutan 'Mas' sudah berhasil aku pensiunkan dari aku SMP. Memang sewaktu aku kecil, aku diajari oleh mama, memanggil mereka dengan sebutan itu. Namun lama-kelamaan aku semakin malas memanggil mereka dengan sebutan itu.

"Udah jarak umur gue dengan mereka jauh, tambah nyebut pake gituan, tambah berasa gap-nya."

Jadilah aku memanggil mereka langsung dengan nama mereka.

Kebiasaan memanggil dengan sebutan 'Mas' bagi keluarga Jawa, sebenarnya juga berlaku pada lingkungan keluarga besar. Antar sepupu, berdasarkan silsilah urutan keluarga, yang dilihat dari orang tuanya. Bukan antar sepupu siapa yang lebih tua, tapi orang tuanya siapa yang lebih tua.

Hal itu pulalah yang membuatku dan kedua kakakku dipanggil dengan sebutan Mbak, dan Mas oleh hampir semua sepupuku dari pihak mama. Maklum, mama anak paling tua di keluarganya.

Merasa bersyukur, tak semua sepupuku memanggilku dengan sebutan Mbak ("Woi, kagak usah pake Mbak2an lah manggil gue sekarang!").

Lain halnya keluarga dari pihak papa. Papa bukan anak paling tua memang, yang berarti jika menuruti aturan adat Jawa, seharusnya aku memanggil sepupu-sepupu, yang merupakan anak-anak dari kakak-kakaknya papa, dengan sebutan Mas atau Mbak.

Kembali merasa bersyukur, semua sepupuku dari pihak keluarga papa tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Kecuali jika orang tua mereka yang notabene adalah pakde dan bude-ku membahasakan padaku untuk memanggil mereka dengan tambahan embel-embel itu.

Mungkin kalian sedikit bingung, mengapa aku tidak suka harus memanggil mereka kenalanku, terutama yang laki-laki dengan sebutan 'Mas'.

Hmmm, seperti yang tadi aku sudah katakan, pikiran ini adalah pikiran yang tak lazim nyangsang di kepala orang lain.

Bagiku panggilan/sebutan 'Mas' tersebut, menimbulkan persepsi sebuah penawaran kemesraan terhadap orang yang aku panggil dengan sebutan itu ("Aneeehhh 'kan?").

Aku tahu persis, pikiran ini adalah pikiran aneh, padahal ada pikiran lain yang harusnya mendominasi di atas pikiran tersebut. Misalnya pikiran yang berkaitan dengan sopan santun dan respek terhadap mereka yang lebih tua.

Namun pikiran itu sedikit termentahkan dengan pikiranku yang lain bahwa sebutan tersebut dapat memperbesar gap antara yang memanggil dan yang dipanggil.

Aku juga merasa beruntung, bahwa dulu saatku di kantor, teman-teman satu divisiku, bahkan sampai dengan kepala divisinya sendiri memintaku memanggil mereka langsung dengan nama mereka.

"Beneran deh, itu bisa mengurangi gap antar kami."

Namun di atas semua pikiran aneh yang sempat nyangsang di otakku yang sering mengsle ini, aku sedikit kualat dengan pikiran sendiri.

Tahun 2004, kembali kuliah di kampus yang mempunyai budaya memanggil para dosennya dengan sebutan 'Mas' dan 'Mbak'.

Tak tahu mengapa, kali ini aku tak merasa jengah sama sekali untuk memanggil mereka sesuai dengan tradisi di lingkunganku kali ini, karena memang aku melihat posisi mereka yang adalah dosen dan aku mahasiswanya, terutama untuk para dosen yang umurnya memang lebih tua daripadaku. Namun untuk dosen-dosen muda yang umurnya setara atau bahkan lebih muda dari aku, heheheheh agak bingung aku dibuatnya. Bingung mau memanggil apa.

Ya, sejalan waktu, otakku yang mengsle ini, lama-kelamaan bisa juga dibuat agak lurus dan menjadi tidak aneh ("Diiiikkkiiittt!!!").

Satu yang aku harap, hehehehe..mudah-mudahan nanti siapapun yang jadi suamiku, tak memaksaku untuk memanggilnya dengan sebutan tertentu.

Kalaupun nanti tiba-tiba kalian mendengarku memanggil seseorang yang mempunyai hubungan romantisme tertentu denganku, dengan sebutan yang dulu menurutku aneh itu, itu karena memang keinginanku sendiri, bukan karena siapapun ("Biar mesra terus dounks ah!").

"Terus 'Cha, cerita kualat lu cuma yang di kampus doank? Ngga ada yang lain?"

"Hmmmmm, ada gak ya? Gak siy kayaknya. Kayaknya."

"Yakin?"

"Sepertinya. Kalo pun ada, yahhh cuma gue aja lah yang tau."

----

"I love you, Mas!"

"Eh, ngomong sama sapa lu 'Cha? Ama tembok?"

"Ho-oh! Eh atau orang yang mirip sama tembok?"

----

*judul entri blog terinspirasi dari judul film I Love You, Oom.