Selasa, Januari 13, 2009

Ada Kursi Kosong Di Sana...

Sudah sebulan lebih, sahabatku, Karin Taramiranti terbaring sakit di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Sebulan pula, Yudha, suaminya menemaninya di sana. Hari minggu lalu, 11 Januari 2009, akhirnya setelah sebulan di Singapura, Yudha memutuskan untuk kembali ke Jakarta sebentar.

Banyak yang ingin ia ceritakan, banyak juga yang ingin aku ketahui tentang perkembangan Karin sampai sebelum Yudha kembali ke Jakarta. Kami pun mengatur waktu untuk bertemu, dari sebelum ia pulang.

"Dha, jadi lu pulang besok?"

"Jadi."

"Eh, jadi 'kan kita ketemu? Gue mau cerita banyak nih ke elo n ke Mas Wawan."

"Ya, udah. Senin aja ya? Di mana? Di kantor?"

"Di kantor juga boleh."

"Lunch, atau after office hour?"

"Dua-duanya okay gue."

"Kalo gue sih prefer 'bis ngantor kali ya. Biar leluasa. Lagi pula bapak yang satu itu, juga lagi sibuk, ngga mungkin sepertinya lunch dia keluar kantor."

"Ya, 'dah ntar gue telepon dech, begitu gue sampai Jakarta. Sekalian ngatur jadwal kita lah yang bisa bantu jaga Karin di sana."

"Sip."

"Karin lagi butuh temen yang banyak bacot neh, biar dia bisa semangat. Yang brisik terus deket dia banget 'kan cuma elo, Rully & Mas Wawan."

"Ya, udah ntar kita omongin kalo elu 'dah nyampe sini ye."

Senin siang, 12 Januari 2009, kembali Yudha meneleponku, untuk mengkonfirmasi pertemuan kami sore ini.

"Cha, ntar di mana? Kok gue telepon Mas Wawan ngga diangkat? Apa dia ngga kenal nomor gue ya, jadinya ngga diangkat."

"Emang gitu siy dia biasanya, kalo ngga kenal, ngga diangkat, tapi dia punya kok nomor loe. Meeting kali dia. Biasanya kalo dah meeting kagak ngangkat telepon."

"Gini, ntar sore jam 6 gue harus ke Sentra dulu, ngurus asuransinya Karin, ke kantornya, terus jemput Cyrill ke Bekasi, ke rumah adik gue. Gue sih berharap ketemunya di Cibubur aja. Ntar berangkatnya elo bisa ikut gue, atau ketemu di Sentra terus ikut jemput Cyrill, baru kita ke Cibubur. Banyak nih yang mau gue omongin."

"Ntar gue sms elo kali ya. Gampang lah gue bisa nebeng elo, bisa nebeng Mas Wawan, tapi gue males kalo loe suruh gue ke Sentra. Gue usaha tanya yang lagi sibuk meeting itu. Itupun kalo bisa ditanya."

"Okay, ntar sms gue ya."

"Sip."

Aku dan Yudha tinggal menunggu jawaban dari satu orang lagi. Satu orang yang sepertinya sedang pening dengan pekerjaan dan kesibukan awal tahun. Aku hanya berani mengirim pesan melalui BBM. Namun tepat seperti yang aku perkirakan. Tak ada jawaban. Akhirnya aku putuskan.

"I have decided. Ntar ketemunya di Cibubur aja. Either di tempat Yudha atau di tempat loe. Gue ke kantor loe aja, jangan ninggalin gue ye."

SMS berikutnya...

"Dha, ntar ketemuannya di Cibubur aja, jam 8an. Elu jemput Cyrill dulu. Ntar kita ngobrol bertiga ada Cyrill juga gpp. Terserah di tempat loe atau di tempat Mas Wawan, bebas. Elo di Sentra-nya jangan lama-lama ye."

Berangkat dari rumah dalam keadaan hujan deras, dan akhirnya berhasil mencapai kawasan Kuningan sekitar pukul 18.00. Waktu tempuh dari rumah hingga Kuningan termasuk normal. Sekitar 50 menit saja. Menunggu di Daily Bread sekitar 30 menit, akhirnya aku dan Mas Wawan pun bertolak menuju Cibubur.

Seperti biasa, seluruh jalanan ibukota dipastikan mengalami macet total saat diguyur hujan. Beruntung tak ada satu pun dari kami yang harus menyetir. Kami pun bisa santai mengobrol di kursi belakang, tanpa harus dipusingkan dengan tingkah laku pengendara mobil dan motor di jalanan. Dan tak berapa lama Yudha telepon.

"Dah di mana?"

"Hmmm, di mana niy, masih di depan Bidakara. Macet banget 'Dha. Elo di mana?"

"Lah, elo sama sapa 'Cha? Gue baru keluar Mega Kuningan."

"Gue nebeng Mas Wawan. Elo abis ini jemput Cyrill 'kan? By the way, elo disupirin Odang 'kan?"

"Iya, gue jemput dia dulu, sama Odang. Ntar ampe Cibubur jam 8, setengah 9an lah ya. Gue nidurin Cyrill dulu. Mau di rumah gue atau di rumah Mas Wawan?"

"Mas, mau di rumah loe, atau rumah Yudha?"

"Terserah."

"Terserah loe 'Dha katanya."

"Ya udah, ntar gue kabarin lagi ya."

Telepon pun kami tutup. Namun belum sampai lima menit telepon selulerku kembali berbunyi.

"Kenapa 'Dha?"

"Ngga, gue baru mikir, apa si abang gue suruh tidurin di rumah Linda aja ya? Biar gue ngga harus ke Bekasi? Biar cepet. Gimana?"

"Hmmm, terserah elo sih. Gitu lebih enak sebenernya, tapi elu 'dah ngga ketemu Cyrill satu bulan lo. Ya elo telepon dia dulu gih."

"Ntar gue telepon lagi ya."

"Sip."

Kembali aku sudahi pembicaraan itu. Dan kembali aku mengangkatnya kurang dari 5 menit.

"Ya, 'Dha."

"Barusan gue tilpun si abang, bilang dia suruh tidur dulu. Eh tau-tau dia telepon gue balik. Bilang ngga mau tidur dulu kalo ngga ngeliat Bapak."

"Ya, udah lah, elo jemput dia dulu aja."

"Iya ya."

"Iya ntar gue nyari makan dulu aja, biar nunggu elo juga ngga lama."

Aku melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, saat kami baru saja melewati pintu keluar tol Cibubur.

"Ampun, 'dah jam 8. Laper ngga?"

"Mau makan di mana?"

"Bebek presto situ aja yuk. Lagi pengen tuch bebek gue."

Akhirnya kami berhenti sebentar untuk mengisi perut yang sudah lapar. Dan dalam waktu kurang dari 1 jam, kami sudah sampai kediaman Mas Wawan.

"Woi 'Dha, dah sama Cyrill?"

"Dah, nih mau ngomong sama abang?"

"Mana?"

"Halo Bang Cyrill."

"Halo, ini sapa?"

"Tante Ocha sayang. Bang Cyrill udah bobokh?"

"Udah bobokh dari tadi. Tapi ini mau bobokh lagi."

"Bobokh ama Joey ngga?"

"Joey boboknya beda. Kalo Joey bobokhnya kotor, di belakang. Cyrill ngga."

"Kalo Bang Cyrill bobokh di mana?"

"Bobokh di kamar lah."

"Bobokh sama siapa bang?"

"Sama Bapak."

Tak lama kemudian, anak lucu itu memberikan teleponnya kepada Bapaknya.

"Gue dah sampe rumah."

"Hah, rumah?"

"Hehehe, gue lupa bilang, rumah Mas Wawan maksud gue."

"Ya, udah, gue pulang dulu, nidurin niy kecil, ntar gue nyusul ke situ yak."

Tak berapa lama kemudian, Yudha pun datang. Aku yang membukakan pintu pagar. Serasa tuan rumah memang.

"Kok gue telepon-telepon ngga diangkat."

"Oh, gue silent, gue males denger telepon dari rumah berkali-kali, brisik. Kenapa emang?"

"Ngga tadinya gue mau minta di rumah gue ajah gitu."

"Oh, Mas Wawan lagi mandi. Masuk dulu lah, ntar kalo mau di rumah loe, tunggu dia dulu. Tinggal jingkring pindah selemparan kancut."

Begitu Yudha memasuki rumah, kami pun mulai mengobrol, sambil menunggu tuan rumah selesai membersihkan diri...

"Gimana loe, apa kabar? Baik-baik aja 'kan, ga sakit?"

"Ya, begini lah. Gue masih bisa handle kok."

"Terus si Kancut?"

"Iya, tadi gue telepon mamanya, katanya hari ini sudah bisa duduk 2 jam."

"Wah, that's good."

Ia pun kemudian menunjukkan beberapa foto Karin yang ada di telepon selulernya. Foto-foto itu diambil kira-kira 3 hari sebelum Yudha kembali ke Jakarta. Tak percaya dengan yang aku lihat, sama sekali tak percaya. Namun ia tetap sahabatku, my partner in crime.

Tak berapa lama Mas Wawan pun sudah selesai.

"Mau minum apa 'Dha? Teh?"

"Hmm, ngga teh lah Mas."

"Kopi?"

"Yupe."

"Make it three ya, Mas."

Setelah Mas Wawan selesai meracik kopi, selanjutnya, tanpa dikomando siapa pun, kami bertiga menuju ruang makan. Dan duduk di kursi "masing-masing". Dengan posisi yang sama tepat saat 22 November 2008 lalu, saat kami duduk di sana, bermain kartu hingga pukul 04.15 pagi, esok harinya.

Berbeda memang saat ini, kami hanya bertiga. Satu kursi sedang ditinggal oleh sang "pemilik". Kursi yang dulu diduduki Karin.

Perbincangan kami pun kali ini tak kalah panjang, hingga pukul 02.15 dini hari. Juga tak kalah seru, walau tawa kami tak semeriah dulu. Terbatas, karena rasa prihatin dengan kondisi Karin saat ini, karena rasa rindu kami pada Karin yang tentu belum terobati. Dan karena masih ada satu bangku yang kosong di sana. Bangku yang kami harap akan terisi lagi oleh orang yang sama.

Promise you, i'll be there soon babe..kalo semua urusan skripsi gue lancar..doain ye...gue yakin elu 'dah kangen berat 'kan ama gue...wakakkaka

Dari para anggota "konferensi meja bundar Cibubur":
We miss you 'Rin, 'Yin, 'Jo, 'Ncut*..hope we can be together again...throw those damn cards on that table again...

Hope that you can sit on that chair again...so it's not empty anymore...


* Karin=Ayin=Karjo=Jojo=Kancut... (panggilan sayang untuk Karin dari teman-teman)

0 komentar: